Gambar Artikel
Ilustrasi krisis iklim/Foto: Freepik

Menjelang Seabad KOWANI, Perempuan Didorong Ambil Peran dalam Krisis Lingkungan

Penulis: Ngarto Februana | | Dipublikasikan pada 8 Juni 2026 | Kategori: Sosial


JAKARTA — Krisis iklim, persoalan sampah, dan degradasi lingkungan kian memengaruhi kehidupan masyarakat. Di tengah tantangan itu, Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) mengajak perempuan mengambil peran lebih besar dalam upaya menjaga keberlanjutan lingkungan.

Ajakan tersebut menjadi tema utama Seminar Nasional Hari Lingkungan Hidup 2026 yang digelar KOWANI pada Selasa, 9 Juni 2026. Mengusung tema “Menuju Satu Abad KOWANI, Satu Komitmen untuk Bumi: Peran Perempuan Indonesia untuk Lingkungan Hidup”, seminar berlangsung secara hibrida dari Gedung KOWANI, Jakarta.

Ketua Umum KOWANI Nannie Hadi Tjahjanto mengatakan isu lingkungan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan keluarga dan masyarakat. Menurut dia, dampak kerusakan lingkungan berpengaruh langsung terhadap kesehatan, ketahanan pangan, dan masa depan generasi mendatang.

“Perempuan adalah pendidik pertama dalam keluarga sekaligus penggerak di masyarakat. Ketika perempuan memahami prinsip keberlanjutan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, dampaknya dapat menjangkau generasi berikutnya,” kata Nannie dalam keterangan tertulis.

Menjelang usia satu abad, KOWANI, yang berdiri sejak 1928, berupaya menegaskan kembali keterlibatannya dalam berbagai isu kebangsaan, termasuk persoalan lingkungan yang kini menjadi perhatian global.

Seminar tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan peneliti, pemerintah, dan organisasi masyarakat. Di antaranya peneliti senior Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Siti Zuhro, Direktur Mitigasi Kementerian Lingkungan Hidup Haruki Agustina, Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Dudi Gardesi, serta Ketua Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Papua Selatan Tetyliana Moi Wolo Imadewa.

Selain itu, acara akan dihadiri Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian dan Wakil Gubernur Papua Selatan Paskalis Imadawa.

Ketua Panitia Seminar Nasional Mathilda A.M.W. Birowo mengatakan penyelesaian persoalan lingkungan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Karena itu, forum tersebut dirancang untuk mempertemukan pengambil kebijakan, akademisi, organisasi perempuan, komunitas lingkungan, dan masyarakat.

“Tantangan lingkungan tidak bisa diselesaikan pemerintah sendiri. Diperlukan kolaborasi lintas sektor untuk membangun kesadaran sekaligus mendorong aksi nyata,” ujar Mathilda.

“Tantangan lingkungan tidak bisa diselesaikan pemerintah sendiri. Diperlukan kolaborasi lintas sektor untuk membangun kesadaran sekaligus mendorong aksi nyata,” ujar Mathilda.

Menurut dia, perempuan memiliki posisi strategis dalam mendorong perubahan perilaku di tingkat keluarga maupun komunitas. Karena itu, peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tidak hanya menjadi momentum refleksi, tetapi juga kesempatan memperkuat gerakan bersama dalam menjaga lingkungan.

Seminar ini terbuka bagi organisasi perempuan, mahasiswa, akademisi, komunitas lingkungan, aparatur pemerintah, dan masyarakat umum yang memiliki perhatian terhadap isu keberlanjutan lingkungan.


Total Views:

0

This page has been viewed by 0 users.


Bagikan Artikel:

Artikel Pilihan